Kontrakan Pojok
Kontrakan Pojok

Kontrakan Pojok

- +
Kontrakan Pojok (ilustrasi)

Disclaimer: fiktif belaka.
Pagi tiba, aku berjalan menyusuri gang perumahan yang dipinggirnya digenangi air karena got penuh dengan sampah. Dari kejauhan tampak sebuah rumah, letaknya dipaling ujung gang. Rumah tampak kokoh, namun rerumputan telah menyelimutinya. Rumput-rumput setinggi lutut tumbuh liar di depan pagar rumahnya.
Aku, Andi, Rudi dan Yasin berjalan beriringan makin dekat dengan rumah itu. Kami adalah mahasiswa satu kampus, kami memutuskan untuk mengontrak rumah, daripada ngekos, karena biaya yang jauh lebih murah.
Di perumahan inilah kami menemukan rumah yang dikontrakkan dengan harga sangat murah. Ya pas banget lah sama kami yang mahasiswa, di mana uang jajan rebutan sama uang fotokopi. Dengan menempati rumah itu tentu kami bisa lebih hemat.
Kami berempat telah sampai di depan rumah. Terlihat pagar besi depan rumah itu sudah karatan, catnya mengelupas. Barangkali rumah ini sudah sekian lama tidak ditempati. Di tengah pagar tertulis, “dikontrakkan, hubungi 081231231231”.
“Gimana, Rud? Mau coba ngontrak di sini?” Tanyaku pada Rudi.
“Coba telepon dulu nomor itu,” jawab Rudi seraya menunjuk pada plang tadi.
“Baiklah,” langsung kuambil ponsel dalam saku. Kupencet nomor HP yang tertera, nomor cantik, lalu dial. Tuuttt .. tuttt… bunyi nada sambungan.
[Halo, dengan siapa?] Suara dari seberang mengagetkanku.
[Saya Riki, Pak, saya mau bertanya tentang rumah yang mau dikontrakkan di pojok perumahan Duro pak.] Jawabku.
[Oh, iya adik sedang di mana?]
[Saya di depan rumah, Pak] jawabku
[Oh, ya tunggu ya dek, saya segera ke sana]
[Baik, Pak, kami tunggu] jawabku. Sambungan telepon terputus.
“Gimana, Rik?” Tanya Andi.
“Kita tunggu di sini, pemilik kontrakan akan segera kemari katanya.” Jawabku sambil mencari tempat bersih untuk duduk di tepi gang.
Andi, Rudi dan Yasin ikutan duduk di sebelahku. 30 menit kami telah menunggu, namun belum ada tanda-tanda bapak pemilik kontrakan akan datang. Suasana sepi, aku maklum, karena hari memang masih liburan.
Lama sekaali kami menunggu, hingga kami tersadar ada suara keras keluar dari dalam rumah. Ternyata pintu rumah terbuka. Namun pintu gerbang masih tertutup rapat. Di dalam ada seperti gerak-gerik orang, memindah dan menyeret bangku.
“Rud, bangun, Rud!” Ternyata Rudi dan lainnya tertidur di pinggir gang.
“Hmmhhh, ada apa?” Sambil mengucek matanya?
“Lihat itu di dalam rumah!” ucapku seraya menunjuk ke dalam rumah.
“Apa rumah ini berpenghuni?” Aku dan rudi saling berpandangan.

Diperbarui
Tambahkan Komentar
Kontrakan Pojok

Kontrakan Pojok