Surat Terbuka Untuk Bapak Calon Kepala Desa
Surat Terbuka Untuk Bapak Calon Kepala Desa

Surat Terbuka Untuk Bapak Calon Kepala Desa

- +
Surat terbuka untuk calon kepala desa(ilustrasi)

Untuk yang terhormat bapak calon kepala desa

Salam sejahtera semoga bapak dapat mensejahterakan kehidupan kami.
Kami tau bapak adalah orang hebat, sehingga bapak mempunyai tempat tersendiri di hati kami para pendukung-mu ini.
Kami tau bapak adalah orang kaya, sehingga dapat memberikan kami kami uang saku agar kami dapat berbelanja dan berpesta ria pada pesta demokrasi nanti.
Kami tau bapak orang terpandang, seorang tokoh dan ditokohkan, sehingga kami rela mengorbankan jiwa raga kami agar bapak dapat memenangkan kompetisi ini. Jangankan duit, Kuota Internet rela kami habiskan hanya untuk mengkampanyekan bapak di Facebook dan media sosial lainnya.
Tapi, kalau boleh … kami ingin memohon satu hal kepada bapak.
Bukan soal jalanan yang rusak akibat mobil-mobil mewah itu.
Bukan pula soal keamanan dari pembegal dan maling keparat itu.
Bukan, itu masih nomor ke sekian pak.
Yang kami minta nomor satu adalah tolong jangan pecah belah kami pak. 
Jangan hancurkan persaudaraan kami.
Kami semua penduduk desa ini adalah saudara yang ingin hidup damai sentosa.
Biarkan kami memilih sesuai hati nurani kami.
Janganlah bapak meminta bantuan guru-guru kami untuk mendoktrin kami.
Sehingga kami fanatik dengan pilihan kami, lalu kami menjelek-jelekkan pilihan tetangga dan sanak kerabat kami. 
Inilah yang memicu pertengkaran diantara kami. 
Siapapun diantara bapak yang menang dalam Pilkades nanti, itulah pemimpin kami. 
Dimana kami serahkan urusan dan sebagian hak kami untuknya.
Kami percayakan dia untuk memberikan perubahan yang semakin baik untuk desa kami tercinta ini.
Kalaupun bapak nanti kalah dalam Pilkades, kami berharap bapak tetap berjuang untuk kesejahteraan kami sesuai kapasitas bapak sebagai penduduk desa ini.
Janganlah kemudian bapak mengamuk, dan menyuruh anak buah bapak untuk mengacaukan kehidupan kami, merampas harta dan hewan-hewan ternak kami, dan kemudian membombardir kami.
Jadi atau tidak jadi bapak sebagai kepala desa, jangan lampiaskan kemarahan bapak kepada kami manusia-manusia lugu dan tidak tau apa-apa ini.
Kami tidak tau menau soal politik.
Yang kami tau hanyalah bagaimana memegang pacul untuk menggarap sawah dan tegalan.
Yang kami tau hanyalah bagaimana memegang arit untuk membasmi hama tanaman dan mencari makanan ternak kami.
Yang kami tau hanyalah bagaimana menebar pukat dan melempar sauh. Menangkap ikan agar anak-anak kami bisa makan dengan kenyang.
Yang kami tahu hanyalah bagaimana menuliskan huruf a b c di sebuah buku tulis dan sekali lagi kami katakan, kami tidak tau menau soal politik.
Kami hanya orang-orang lugu yang mempunyai hak untuk memilih satu diantara bapak.
Iya hanya satu, sebab memilih semuanya adalah bukan sebuah tindakan yang bijaksana.
….
Kalau misalkan nanti bapak kalah, tolong jangan musuhi kami.
Dan kalau misalkan bapak menang, tolong jangan lupakan kami.
Silahkan bapak rayu kami dengan program yang bapak susun untuk kehidupan kami yang luntang-lantung ini agar menjadi lebih baik.
Tapi jangan pernah memaksa kami untuk memilih bapak, sebab kami paling tidak senang dipaksa. 
Sebab kami masih punya pikiran dan hati nurani untuk menentukan pilihan kami. 
Kami tau bapak sekarang punya banyak kaki tangan yang tidak diragukan lagi kesetiaannya.
Kami pun juga tau bapak bisa mengendalikan mereka agar tidak memprovokasi kami, yang kemudian dapat menimbulkan pertikaian diantara kami.
Kami sangat mencintai desa kami nan cantik jelita ini.
Jangan hanya karena kepentingan bapak untuk mendapatkan kedudukan sebagai kepala desa, lantas bapak mengotorinya dengan  kebencian, kesombongan, fitnah, atau bahkan amisnya darah pertikaian di desa kami nan cantik jelita ini.
Jangan egois lah pak..
Jangan egois..
Sebagai warga negara yang baik kami akan luangkan waktu kami untuk berpartisipasi dalam pemilihan nanti. 
Agar bapak dapat memiliki kedudukan tinggi di desa ini. 
Agar bapak mendapat kehormatan di desa ini.
Agar bapak hidup sejahtera dengan gaji dan tunjangan yang bapak dapatkan. 
Tapi ingat pak, itu adalah uang kami, rakyat jelata ini. 
Semua yang bapak dapatkan itu dari kami semua. Bukan hanya dari para pendukung bapak itu.
Bapak memegang amanat dari kami.
Kami tidak minta yang muluk-muluk kok pak.
Apa yang menjadi tugas bapak kerjakan. Dan apa yang menjadi hak kami berikan.
Itu saja pak..
Kami tau bapak juga manusia biasa yang terbatas kemampuannya.
Salam, semoga Tuhan yang Maha Kuasa memberkati langkah-langkah perjuangan bapak. Amin ya rabbal ‘Alamin..

Ttd 
Rakyat Jelata

Diperbarui
Tambahkan Komentar
Surat Terbuka Untuk Bapak Calon Kepala Desa

Surat Terbuka Untuk Bapak Calon Kepala Desa