Ingat Sahur? Jangan Merusak Esensi Puasa
Ingat Sahur? Jangan Merusak Esensi Puasa

Ingat Sahur? Jangan Merusak Esensi Puasa

- +
via Abi Ummi
Kewajiban puasa Ramadhan bagi setiap orang Islam yaitu selama satu bulan penuh. Jadi mustahil kita bisa melupakan makan sahur. Sebab hal yang sering terjadi bukanlah lupa sahur, melainkan tidak sahur karena tidur dan bangun kesiangan atau memang karena tidak mau sahur.
Makan sahur merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang akan berpuasa. Baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah. Keutamaan tentang sahur sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makanan sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun alaih). Disamping itu, terdapat banyak lagi keutamaan sahur, sehingga kaum muslimin akan merasa sangat rugi jika tidak melaksanakan makan sahur.
Pentingnya makan sahur dalam menjalankan ibadah puasa membuat kaum muslim khususnya Indonesia berlomba-lomba untuk saling mengingatkan akan makan sahur. Media sosial menjadi media paling populer, seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan BBM akan dipenuhi status dan kiriman beranda tentang pengingat sahur. Tidak kalah saing, di berbagai daerah, Takmir Masjid dan Remaja Masjid pun juga ikut meramaikannya melalui speaker masjid. Bahkan sebagian masyarakat ikut matrol demi untuk memeriahkan makan sahur.
Matrol merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Madura khususnya daerah Kabupaten Sumenep untuk suatu kegiatan menabuh tong-tong atau pentongan yang terbuat dari bambu maupun dari termpurung siwalan dan alat-alat musik lainnya dengan berkeliling kampung. Kegiatan ini dilaksanakan setiap malam menjelang subuh untuk membangunkan penduduk kampung untuk melaksakan sahur.
Di kalangan mahasiswa khusunya, pengingat sahur mendominasi melalui media sosial. Tidak heran jika setiap malam menjelang subuh di berbagai grup media sosial diramaikan dengan perngingat sahur dalam bentuk teks maupun voice note. Bahkan ada sebagian yang membuat grup khusus pengingat sahur.
Semangat untuk mengingatkan dan memeriahkan makan sahur seakan melebihi semangat untuk menjalankan ibadah puasa itu sendiri. Padahal makan sahur dalam menjalankan ibadah puasa adalah perkara sunnah. Sedangkan ibadah puasa Ramadhan merupakan perkara wajib dilaksanakan oleh tiap-tiap orang islam. Jadi, seharusnya yang diprioritaskan adalah ibadah puasa, bukan hal-hal pendukung yang seharusnya menjadi penyempurna ibadah puasa malah merusak esensi ibadah puasa itu sendiri.
Tidak hanya itu, upaya untuk memeriahkan pengingat sahur juga dapat mengurangi kualitas ibadah lainnya. Waktu sepertiga malam terakhir yang seharusnya digunakan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, malah terbuang percuma dengan canda-gurau kemesraan di media sosial. Lebih parahnya lagi setelah bosan dengan kemesraan di media sosial, kemudian tidur dan subuhnya pun kebablasan.
Hal itu menjadi fakta di sekitaran perumahan Daerah Telang ini, walau tak juga dapat digeneralkan. Terbukti, jika kita berjalan-jalan di pagi hari setelah subuh sampai terbit matahari, jalanan menjadi lengang seperti sedang berada di kota mati. Semua pintu tertutup rapat, gelap, dan tidak ada pertanda sebuah aktivitas di dalam rumah. Di masjid, yang mengisi shaf-shaf shalat subuh pun tidak lebih dari dua baris. Hal yang paling membuktikan bahwa sebagian mereka terlelap dalam tidur dan terbuai mimpi indah adalah grup media sosial yang biasanya ramai perlahan menjadi sepi. Tidak ada lagi yang nyeletuk. Yang ada hanyalah sebuah rekaman jejak “Terakhir dilihat 30 menit yang lau” atau “Aktif sekitar 1 jam yang lalu” dan sebagainya.
Ketika keadaan sudah seperti ini, maka perlu strategi bagamana cara agar kita tetap dapat ingat sahur 30 hari atau bersahur tanpa merusak esensi ibadah puasa dan lainnya. Sehingga kita akan memperoleh keberkahan bulan Ramadhan ini dengan maksimal.
Dalam menjalankan ibadah puasa, sahur adalah perkara sunnah yang sangat dianjurkan. Kalau berbicara sunnah, jika dikerjakan mendapat pahala dan keutamaannya sedangkan jika ditinggalkan maka akan merugi (bukan nggak apa-apa). Akan tetapi kita jangan sampai terlena dengan keutamaan yang besar sehingga kita menyepelehkan perkara yang jelas wajib dan menjadi inti peribadatan kita.
Hal yang sering salah kaprah adalah kita selalu terlena dengan keutamaan ibadah sunnah yang keutamaannya hanya tercantum dalam hadits-hadits lemah atau bahkan palsu. Para Ulama memang telah sepakat tentang kebolehan mengerjakan suatu amalan dengan berdasar hadits dhaif yakni dalam hal perbuatan-perbuatan mencari keutamaan (Fadhailul Amal). Tetapi permasalahannya adalah ketika kita memprioritaskan amalan sunnah karena terlena dengan keutamaannya sampai melalaikan perkara wajib. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fath Al-Bari, “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.”
Ketika hal ini terjadi, pasti ada yang salah dengan diri kita. Karena amalan-amalan sunnah itu bukan untuk merusak atau bahkan mengganti perkara wajib, melainkan menjadikan ibadah kita menjadi sempurna. Paling tidak, mendekati sempurna.
Tidak ada salahnya saling mengingatkan untuk sahur baik di media sosial maupun secara langsung. Bahkan hal itu dianjurkan karena termasuk saling membantu dalam kebaikan dan ketaatan. Tetapi dalam proses saling mengingkan itulah jangan sampai ada perkara yang dapat menyebabkan berkurangnya pahala puasa kita.
Penggunaan sosial media dalam rangka tolong-menolong untuk saling mengingat sahur adalah hal bagus jika digunakan sesuai keperluan dan tidak berlebihan. Media sosial seperti WhatsApp dan Facebook memungkinkan kita untuk mengobrol, mengirim gambar, video, dan file lainnya dengan cepat. Sehingga hanya dalam sekejap pengiriman konten yang tidak berkualitas atau bahkan mengarah pada pornografi, pertengkaran, perkataan yang menyakitkan, ghosip(ghibah), atau bahkan fitnah pun dengan mudah tersebar luas. Hal yang seperti ini tentu sudah melenceng dari tujuan awal untuk saling membantu mengingatkan sahur.
Tampaknya hal ini adalah perkara yang speleh tetapi tidak boleh dispelehkan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690).
Hal itu karena banyak orang-orang islam yang menganggap puasa hanyalah sebatas tidak makan dan tidak minum saja. Tetapi pada hakikatnya puasa juga menahan diri dari segala perkara yang diharamkan bahkan mengerjakan suatu kesia-siaan saja pun sudah mengurangi pahala puasa dan merusak esensi ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1996)
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan yaitu: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.
Tiga tingkatan puasa itu disusun menurut sifat dari orang yang mengerjakan. Kita tentu akan sangat merugi jika hanya menjadi orang yang berpuasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja.
Oleh karena itu, meramaikan waktu sahur dalam rangka saling mengingatkan untuk sahur harus dilakukan dengan sewajarnya. Jangan sampai merusak atau bahkan menghilangkan esensi puasa dan ibadah lainnya. Sehingga sahur 30 hari tidak terlupakan dan puasa pun lancar.
Bahan Bacaan:
Ibnu Hajar Al Asqalani, 1432 H., Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari . Dar Thiybah.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Ibnu Muhammad al Ghazali, Ihya Ulumuddin.

Bangkalan, 2017

Diperbarui
Tambahkan Komentar
Ingat Sahur? Jangan Merusak Esensi Puasa

Ingat Sahur? Jangan Merusak Esensi Puasa